Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
SETIAP tahun, Gereja Katolik memperingati Hari Komunikasi Sosial Sedunia. Dan, tahun 2026 menjadi momen istimewa karena merupakan peringatan ke-60.
Di Keuskupan Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro menyampaikan pesan yang sangat relevan bagi seluruh pengguna teknologi. “Jangan menggunakan teknologi untuk merendahkan martabat manusia, tetapi gunakanlah dengan hati.”
Pesan yang terdengar sederhana ini sesungguhnya mengandung kedalaman filosofis dan etis yang penting untuk direfleksikan di tengah derasnya arus digitalisasi yang menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan kita.
Dengan mengacu pada pesan Paus Leo XIV, Uskup Hans Monteiro mengingatkan bahwa teknologi tidak boleh menggantikan ‘suara dan wajah manusia yang autentik’.
Pernyataan ini sejalan dengan prinsip ‘human-centered design’, yang menegaskan bahwa inovasi harus melayani kebutuhan manusia. Bukan sebaliknya menjadikan manusia sebagai objek pasif.
Secara ilmiah, penelitian di bidang psikologi media menunjukkan bahwa penggunaan teknologi tanpa kesadaran etis dapat memicu dehumanisasi, yaitu proses di mana manusia diperlakukan seperti data, angka, atau konten yang bisa dieksploitasi.
Contoh nyata yang kerap kita jumpai adalah ujaran kebencian di media sosial, penyebaran hoaks yang merusak reputasi, hingga praktik judi dan pinjaman online yang menjerat masyarakat rentan. Oleh karena itu, menempatkan manusia sebagai pusat dalam setiap penggunaan teknologi merupakan pilihan moral, serentak keharusan ilmiah dan sosial.
Media sosial seharusnya menjadi sarana untuk membangun kehidupan bersama dan memperkuat relasi antarmanusia, sebagaimana ditekankan oleh Uskup Hans. Hal ini mengingatkan kita pada teori komunikasi interpersonal yang menyatakan bahwa komunikasi yang sehat berbasis pada empati, kejujuran, dan saling menghargai.
Setiap kali kita berkomentar, membagikan informasi, atau membuat konten digital, pertanyaan mendasar yang perlu kita ajukan adalah apakah tindakan ini membangun atau merusak? Apakah ini mengangkat martabat orang lain atau justru merendahkan?
Komunikasi yang bermartabat adalah komunikasi yang menghormati nilai-nilai budaya, tidak menyebarkan stereotip, dan menjaga harmoni sosial. Dengan ini, sejatinya, teknologi digital dapat menjadi media pelestarian budaya, bukan alat yang mengikis identitas baik pribadi maupun komunitas.
Salah satu arahan penting Uskup Hans kepada Tim Kerja KOMSOS Keuskupan Larantuka di Minggu, 17 Mei 2026 adalah pentingnya verifikasi informasi. Di era ‘viralitas’, godaan untuk menyebar informasi tanpa cek fakta sangat besar.
Padahal, dalam etika jurnalistik dan literasi digital, prinsip akurasi dan akuntabilitas adalah fondasi kepercayaan publik. Bahwasanya, kredibilitas sumber informasi menentukan kualitas demokrasi dan kohesi sosial.
Ketika hoaks menyebar, yang rusak bukan hanya reputasi individu, tetapi juga kepercayaan publik terhadap institusi dan nilai kebenaran itu sendiri. Oleh sebab itu, verifikasi bukan hanya tugas jurnalis, melainkan tanggung jawab setiap warga digital.
Ada tiga langkah praktis yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, lakukan refleksi sebelum berbagi: tanyakan pada diri sendiri apakah konten yang akan kita sebarkan benar, bermanfaat, dan menghormati martabat orang lain.
Kedua, lakukan verifikasi sebelum viralisasi: cek fakta dari sumber terpercaya sebelum menyebarkan informasi, terutama yang bersifat sensitif atau kontroversial.
Ketiga, dorong edukasi berkelanjutan: tingkatkan literasi digital di keluarga, gereja, dan komunitas agar teknologi menjadi alat pemberdayaan, bukan penjerumusan. Ketiga langkah ini, meski sederhana, dapat menjadi fondasi bagi penggunaan teknologi yang lebih bertanggung jawab dan bermartabat.
Sejatinya, teknologi digital adalah anugerah yang netral. Yang menentukan dampaknya adalah niat dan cara kita menggunakannya. Pesan Mgr. Yohanes Hans Monteiro mengajak kita kembali ke esensi komunikasi: sebagai sarana perjumpaan manusiawi, bukan alat dominasi atau eksploitasi.
Pada momen ini, saya pun mengajak warga digital untuk jangan biarkan AI mencuri wajah dan suara kita. Sebab, pada wajah dan suara itu terpancar ‘cahaya ilahi’ yang tidak tergantikan. Wajah dan suara itulah yang tetap membuat kita sebagai pribadi yang ‘inter mirifica’, pribadi yang menakjubkan di antara semua yang menakjubkan, termasuk teknologi AI.
AI memang menakjubkan. Namun, ia tidak bisa menggantikan kemanusiaan kita yang lebih menakjubkan. Sejatinya, AI adalah penguat kemanusiaan kita, serentak alat untuk mengamplifikasikan wajah dan suara kita dengan kebenaran dan kasih.
Di Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 ini, mari kita jadikan teknologi terkhusus teknologi AI sebagai jembatan kasih, bukan tembok pemisah.
Karena pada akhirnya, secanggih apa pun teknologi, ia tidak akan pernah mampu menggantikan kehangatan senyuman, ketulusan kata, dan kehormatan yang layak diterima setiap manusia sebagai citra Allah. Gunakan teknologi dengan hati, jaga martabat manusia, dan bangun peradaban digital yang memanusiakan. *
Penulis adalah Staf Pengajar Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende

