Oleh: Florentina Ina Wai
Langit Kota Ende menggantung rendah, berwarna kelabu seperti kain usang yang tak lagi sanggup menahan air. Di genggamanku, layar ponsel menyala: Hujan sore. Probabilitas: 85%. Aku sempat skeptis. Bagaimana mungkin mesin kecil itu bisa membaca napas langit yang tak pernah kujadwalkan? Tapi awan itu bergerak pelan, menghitam di ujung timur. Dan aku tahu, teknologi itu tak berbohong. Hanya benda, ya. Tapi jujur.
Kost ini terasa terlalu sempit untuk menampung udara yang mulai pengap. Aku keluar, mencari ruang untuk menukar napas. Langkahku menyusuri jalan yang sudah kukenal, menuju Lapangan Perse. Di mata banyak orang, ini hanya tempat anak-anak berlari dan para pedagang menjajakan dagangan. Tapi bagiku, ini ruang hening tempat aku mengumpulkan kembali diriku yang tersesak oleh sejuta alasan. Tempat di mana ekonomi keluarga berputar dalam skala kecil, di mana pedagang kaki lima menyanggah hidup dengan gerobak dan senyum, di tengah negeri yang kerap memangkas anggaran seolah-olah keringat tidak lagi punya nilai.
Harga tertinggi dua puluh ribu. Terendah dua ribu. Angka-angka kecil yang menopang mimpi besar. Mereka tidak mengeluh. Di saat banyak sarjana kebingungan, pegawai negeri dompetnya menipis, dan pekerja kantoran berganti profesi hanya untuk bertahan. Mereka tetap di sini. Dengan nada lembut, dengan senyum yang tidak menuntut balas. Sederhana, tapi hidup. Mandiri, tanpa panggung.
Langkahku terhenti di sebuah gerobak kayu yang catnya mulai mengelupas. Uap mengepul dari panci aluminium, membawa aroma jagung dan kacang yang direbus dengan api kecil. Di belakangnya, seorang anak laki-laki. Usianya? Mungkin kelas empat atau lima Sekolah Dasar. Atau enam. Sulit ditebak. Anak-anak zaman sekarang tumbuh tak beraturan. Ada yang kurus tapi tegap, ada yang muda tapi matanya sudah lelah. Ia memakai kaos hitam kebesaran, tubuh kurus tapi gerakannya cekatan.
“Kacang rebus, Mas. Lima ribu.” Suaranya jelas, tidak serak meski cuaca lembap.
Aku mengulurkan uang. Ia mengambil, menghitung, lalu menyerahkan bungkusan daun pisang yang isinya tidak pelit. Tidak seperti sebagian penjual yang ikut-ikutan ‘efisiensi’ di tengah harga barang melambung. Ia tetap memberi apa yang pantas. Lima ribu untuk rasa kenyang dan kejujuran. Di saat dolar tak pernah turun ke daerah, ia justru memilih untuk tidak memotong porsi. Sebuah etika yang tak tertulis, tapi terasa nyata.
Aku ingin bertanya. Apakah ia masih duduk di bangku sekolah? Atau sudah lulus SD? Apakah ia berjualan karena jiwa wirausaha yang sudah tumbuh, atau karena tahu bahwa ibunya butuh bantuan? Apakah ia bahagia? Bagaimana ia membagi waktu antara buku pelajaran dan timbangan dagangan? Tapi pertanyaanku kutahan. Mengganggunya saat ia bekerja sama dengan memotong aliran napas yang sedang ia jaga. Kadang, keheningan adalah bentuk penghargaan yang paling tulus.
Gerimis mulai turun, persis seperti yang dikatakan ponselku. Titik-titik air menyentuh daun pisang, membuat aromanya semakin harum. Anak itu tidak buru-buru menutup gerobak. Ia hanya menaikkan terpal plastik dengan gerakan terlatih. Lalu tersenyum pada langit yang akhirnya menangis.
Aku berdiri di tepi lapangan. Merasakan hujan yang sama. Tapi dengan dada yang lebih ringan. Bersyukur. Terinspirasi. Kuat. Bukan karena segalanya baik-baik saja, tapi karena di tengah kelabu, masih ada yang memilih untuk tetap jujur. Tetap melayani. Tetap hidup dengan cara yang sederhana.
Aku pulang, membawa lima ribu rupiah yang terasa lebih berharga dari sekadar uang. Dan, di balik layar ponsel yang mati, langit Ende tetap bercerita. Bahwa kejujuran tidak butuh sinyal, dan keteguhan tidak selalu butuh panggung.*

