Oleh: Fr. Pankrasius Tevin Lory
Ibarat laga sepak bola, negeri ini pun sedang berlaga. Resepnya sederhana, jika ingin bersaing di kancah jempolan, maka pastikan dulu para pemainnya bermotif satu dan manajemen timnya berdiri solid.
Jika urusan ini terpenuhi, maka suporternya akan mati-matian memberi dukungan. Sekalipun timnya kalah, mereka akan dengan bangga menggemakan nada berbunyi sama, “kami tetap Merah-Putih.”
Kesebelasan itu duduk termangu menghadap sang pelatih. Sesal dan kesal menyelimuti hati mereka. Hari itu memang tak mendung, tetapi anehnya, derai gerimis tumpah dari langit mata mereka.
Tadi, detik-detik sebelum laga usai, tangan Anwar menyentuh si kulit bundar di dalam kotak penalti. Siapa sangka, kesalahan kecil itu menuntut si kulit bundar ke titik putih. Permainan sempat dihentikan beberapa menit akibat aksi saling protes.
Adu mulut berlangsung sengit antara wasit dan masing-masing kapten. Anwar tetap berada di posisinya tanpa sedikit pun terlibat dalam ketegangan itu. Detik terus bergulir. Peluit panjang seharusnya sudah dibunyikan 2 menit yang lalu. Dua wasit garis dipanggil untuk memberi keterangan.
Diskusi ketiga wasit berlangsung genting. Belum yakin dengan kemampuan manusiawi mereka, wasit utama memutuskan untuk memanfaatkan bantuan teknologi dengan melakukan pemeriksaan VAR (Video Assistant Referee).
Seluruh penonton, baik yang ada di dalam stadion, maupun yang sedang menatap layar kaca, menahan napas sembari menunggu keputusan wasit. Dua kesebelasan diliputi kecemasan tiada tara, denyut jantung kian bergelora.
Senja itu, di saat jarum jam berdetak untuk kesekian kalinya, di saat aneka doa dilambungkan, wasit tetap pada keputusan semula, tendangan penalti untuk tim lawan. Gol penalti mengakhiri laga itu, juga mengakhiri harap yang sudah didambakan jauh-jauh hari.
***
Tentunya air mata tak bisa dibendung dengan sekadar berpura-pura tegar. Lapang dada bukanlah solusi jitu untuk momen ini. Anehnya, di saat semua meratapi nasib yang tak berpihak, Anwar kelihatan biasa saja.
Gurat sesal tak sedikit pun terukir pada wajahnya. Ia tampak celingak-celinguk tak karuan. Sayang seribu sayang, keanehan itu tak bisa ditangkap karena semuanya sibuk menghadapi kecamuk hati.
Sang pelatih menggeser sedikit topinya, juga berusaha menggeser seluruh rasa yang sedang menghantuinya kini. Akan tetapi, berkali-kali ia mencoba, usaha itu malah mendatangkan alkisah yang penuh suram dan kelam.
***
Dulunya sang pelatih adalah pemain tim ini. Sebuah tim dengan logo seekor burung yang sedang membentangkan sayapnya. Seperti anak asuhannya, ia pernah mengalami nasib serupa. Berulang kali bahkan. Ia tak mempersoalkan pil pahit yang harus ditelan atas bertubi-tubi kekalahan, tetapi lebih pada kegagalan mereka untuk memahami hakikat sejati sebuah tim.
Ia teringat rekannya Basuki, pemain tersohor masanya. Basuki dikenal dengan kecepatan berlari yang luar biasa. Konon ia sering dijaga ketat tiga sampai empat lawan. Tak hanya itu, tendangan jarak jauhnya sungguh mematikan. Ia kerap menjadi penentu kemenangan tim.
Basuki juga cekatan dalam menembus benteng pertahanan musuh. Dibutuhkan tenaga ekstra untuk menghentikan langkahnya. Umpan silangnya selalu tepat sasaran. Ia gemar berbagi bola, tak gemar mendewakan ego.
Kostum bertulis “Basuki”, laris manis di pasaran. Namanya menjadi target utama produsen iklan. Aneka opini bertajuk Masa Depan Negeri Ini sering dikaitkan dengannya. Di kedai kopi, topik tentangnya selalu menyuguhkan sisi menarik.
Tidak menutup kemungkinan bahwa tim lain pun sering dan sedang membahas namanya. “Ia layak memperoleh gelar pemain terbaik tahun ini,” komentar seorang pengamat sepak bola dalam sebuah siaran tv.
Sayang seribu sayang, ketika prestasinya terus melejit, Basuki justru menjadi orang yang paling membenci sepak bola. Ia memutuskan untuk mengubur seluruh mimpinya karena tragedi kelam sepak bola tanah air yang sungguh menyayat hati.
Betapa tidak, ibu dan adik bungsunya juga tercatat sebagai korban kerusuhan antar suporter. Peristiwa ini kemudian dicatat sebagai salah satu tragedi sepak bola yang paling mematikan di dunia.
Beberapa hari sebelum kejadian itu, Basuki membeli tiket pesawat untuk ibu dan adik bungsunya agar bisa secara langsung menyaksikannya bertanding dalam laga antara dua tim yang cukup populer di kancah nasional.
Sebenarnya pertandingan tersebut berjalan lancar. Tim Basuki berhasil mendulang kemenangan dengan skor tipis 3-2. Ibu Basuki menangis haru karena bisa menyaksikan anaknya menyumbangkan gol untuk kemenangan tim.
Namun, apa mau dikata, kebahagiaan itu berlangsung sangat singkat. Sebagian penonton yang tidak terima dengan hasil pertandingan, masuk ke dalam lapangan dengan cara yang sangat anarkis.
Terkejut dengan situasi itu, pihak keamanan segera menembakkan gas air mata untuk meredakan suasana. Sebagian penonton menjerit dengan nada bergetar. Anak-anak menutup telinga agar menghindari teriakan yang memekakkan.
Langkah-langkah panik berlari tanpa arah. Belasan ibu hamil digiring suami mereka keluar stadion, berusaha mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan. Kecemasan membungkus mereka dalam riuh. “Sensasinya seperti demo sembilan-delapan,” bisik seorang kakek pada dirinya.
Di balik pintu stadion, harapan untuk selamat menjadi satu-satunya mimpi. Malangnya, pintu itu justru menjadi saksi bisu puluhan korban yang tewas karena berdesak-desakan dan jatuh terinjak. Ibu dan adik Basuki tak luput dari peristiwa memilukan itu.
Sejak saat itu, bola tidak lagi bundar di mata Basuki, tetapi tajam seperti duri yang mendatangkan luka. Bola selalu mengingatkannya pada wajah-wajah tak berdosa yang terjatuh. Sepak bola yang dulu ia perjuangkan, telah mengkhianati jiwanya, merampas cintanya.
Sang pelatih juga teringat Samsul, pemain depan tim mereka. Jika Basuki populer dengan kehebatannya membagi bola, maka Samsul terkenal dengan kepelitannya memberi bola. Jika ada yang murung ketika timnya mencetak gol, maka orang itu adalah Samsul.
Lain ceritanya jika ia sendiri yang menciptakan gol. Ia akan menepuk-nepuk dadanya seolah ingin berujar, Samsul-lah yang paling hebat. Yah, hanya Samsul. Beberapa kemenangan seharusnya berpihak pada tim mereka andaikan Samsul memberi bola kepada rekan se-tim yang jelas-jelas berada di posisi kosong.
Malangnya, Samsul lebih mengejar reputasi diri ketimbang reputasi tim. Kendati demikian, Samsul tak pernah dicadangkan. Kalau pun di tengah pertandingan ia ditarik keluar, itu semata-mata atas kemauannya sendiri, bukan keputusan pelatih.
Tentang ini, kau akan tahu seberapa berpengaruhnya ayah Samsul di negeri ini. Sebuah ironi yang cukup memalukan bukan? Adapun Almas, kapten tim. Ia boleh membawa timnya menuju partai final, tetapi ia gagal melumpuhkan godaan yang mampir.
Partai final itu berakhir dengan kekalahan tipis adu penalti. Almas yang adalah penendang terakhir, gagal mengeksekusi penalti. Beberapa hari setelahnya, tersebar kabar bahwa kegagalan itu merupakan sebuah kesengajaan. Ada jaminan lebih besar dari hadiah kejuaraan yang membuat Almas gelap mata, tumpul nurani.
***
Kasus yang terakhir ini seolah terulang kembali. Persis di hadapan sang pelatih, sebuah adegan memalukan tertangkap basah. Nampak Anwar melemparkan senyum kepada pemuda berdasi megah di pojok stadion. Mata mereka bertemu disusul kedipan satu sama lain. Sang pelatih tahu persis maksud isyarat itu.
Sang pelatih tertunduk. Kecamuk dalam hatinya semakin membuncah. Ia mencengkeram topinya erat. Tetes demi tetes air mata mulai membanjiri pipi, seketika menenggelamkan keringatnya selama ini. Masih dalam posisi tertunduk, ia mencoba menurunkan ujung topinya, berharap tak ada yang tahu bahwa ia sedang menangis.
“Coba perhatikan Garuda pada kostum kalian. Ia selalu saja menoleh ke kanan dengan harapan yang penuh agar kita pun selalu berpihak pada yang benar. Kabar buruknya, hasrat itu tak pernah diindahkan. Sekarang ini pun, ada di antara kita yang dengan teganya menoleh ke kiri di saat yang lain menoleh ke kanan.
Kita tidak saja gagal menjemput menang, tetapi juga gagal menjadi sebuah tim. Menjadi sebuah tim mengandaikan asa yang utuh, motif yang satu, dan angan yang padu. Garuda itu punya hasrat untuk terbang, tetapi sayapnya sungguh kaku dipenuhi ke-aku-an nan senyap.” Ungkap sang pelatih menuangkan seluruh isi hatinya.
Di sisi timur, sekitar sepelemparan batu jaraknya, seorang bapak terus-menerus mengumandangkan kalimat yang sama, “buang semua mimpimu, negerimu tak akan pernah menang.”
Hey, bukankah tadi ia berapi-api mendukung tim mereka? Bukankah ia sedang berbusana merah-putih, kostum kebanggaan mereka? Nyatakah?
“Ada lagi kegagalan yang lebih tragis sebagaimana diperlihatkan bapak di sana,”ujar sang pelatih seraya menunjuk bapak itu. “Kita gagal menjadi diri sendiri, amis pesimis terus tercium,” lanjut sang pelatih menutup senja itu. Sekian! *
*) Fr. Pankrasius Tevin Lory, Sedang Menjalani Masa Orientasi Pastoral di SMA Seminari Mataloko-Ngada, NTT

